Cukuplah Kematian Sebagai Pengingat Akan Keindahan Dunia

 

Terbangun dini hari tadi. Tak sebagaimana biasanya, tanganku segera meraih ponsel yang tersimpan di meja kecil samping tempat tidur. Alarm yang kusetel pada pukul 3.00 wib belum sempat berbunyi untuk membangunkan penghuni di dekatnya.

Kubuka Wassap yang memang kutunggu kabar dari sana. Jempol kananku mulai membuka grup  family, dan kutemukan tiga pesan belum terbaca sejak malam aku terakhir membukanya.

“Om sudah nggak ada,” berlanjut dengan ikon menangis dan diikuti chat berikutnya dengan kalimat, “Inna lillahi wa inna ilaihi roojiun.”

Mulutku refleks mengucapkan kalimat yang sama. Masih dalam posisi terbaring, ingatanku melayang jauh, memutar waktu saat terakhir bersalaman untuk pamit pulang ke Bandung.

Om, yang baru masuk IGD untuk observasi. Kulihat dari sorot matanya yang menatap lemah dengan senyum tersungging di wajahnya. Sempat kuucapkan sebait kalimat, “Yang sehat, ya Om. In syaa Allah kuat. Kami pamit, ya!”

Hampir tiga minggu berlalu. Kini, aku menyaksikan pemakamannya di Pondok Rangon.

Dari jarak beberapa meter, pandangaku lurus tertuju pada liang lahat yang telah dipersiapkan untuk beliau. Om sudah tenang sekarang, lepas dari rasa sakit yang dirasakannya selama beberapa bulan ke belakang. Semoga menjadi penggugur dosanya dan in syaa Allah husnul khotimah.

“Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un wa inna ila robbina lamunqalibun
Allahumma uktubhu ‘indaka fil muhsinin waj’al kitabahu fi ‘illiyyin
wakhlufhu fi ahlihi fil ghobirin
wala tahrimna ajrohu wala taftinna ba’dahu.”

Artinya: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali dan kepada Tuhan kami semua akan kembali.
Ya Allah! Tulislah dia (yang meninggal dunia) termasuk golongan orang-orang yang berbuat kebaikan di sisi Engkau dan jadikanlah tulisannya itu dalam tungkatan yang tinggi serta gantilah ahlinya dengan golongan orang-orang yang pergi dengan ketaatan PadaMu.

Dan cukuplah kematian sebagai pengingat diri yang selalu terlena akan keindahan dunia fana ini. Apa lagi yang kita tunggu selain kematian?

Wahai Allah, semoga Engkau mudahkan jalan untukku mencari bekal perjalanan panjang nanti. Bimbing langkahku, tunjukilah aku jalan yang lurus. Di mana semua ikhtiar dunia akan menemani dan menyertaiku, yang semuanya hanya tertuju pada-Mu.

Di bawah pohon rimbun yang menjulang tinggi, mataku menjangkau luasnya area pemakaman ini. Sejenak tertegun, suatu saat nanti akan tiba giliranku. Batinku, membisikannya penuh cemas. Bagaimana dengan dosa-dosaku yang semakin hari semakin meninggi bagai buih di samudera. Ah, maafkan akuu duhai Rabb… Jeritku lirih, mengalun bersama hangatnya gerimis yang mengumpul di sudut mata, lalu pecah melintasi pipi.

Suara adzan mulai terdengar dari bawah liang lahat itu, sepupuku tengah menyerukan adzan di samping jenazah ayahnya. Aku tersadar dari lamunan, dan mulai mengalunkan doa melepas kepergiannya.

Selamat jalan, Om. H. Bambang Sukmana. Hari ini adalah takdir yang telah tertulis di Lauhul Mahfuz, jauh sebelum engkau dilahirkan ke dunia. In syaa Allah, banyak amalan yang telah disiapkan untuk bekalmu. Sahabat-sahabat yang mengantarkan sampai ke tempat peristirahatan terakhirmu sebagai buktinya, bahwa Om orang yang baik dan dermawan.

Allah menyayangimu melebihi kami semua.

 

#Pondok Rangon 27072017

 

 

You may also like

Leave a Reply