Kutalak Tiga Kau Riba!

“Kutalak tiga kau riba!”

Kalimat itu meluncur mulus dari komentar seorang teman, saat kami diskusi soal riba di grup BBR beberapa bulan lalu. Berbagai pengalaman usaha yang seketika hancur karena riba.

Ya, riba seolah akrab dengan kehidupan kita. Bahkan, aku pun pernah mengalami terjerat godaan indahnya. Meskipun pemakaiannya untuk bisnis, bukan sekedar memenuhi nafsu konsumtif belaka. Bisnis yang mengharuskan suamiku menggunakan kartu kredit sebagai alat transaksi dengan sellernya di luar negeri. Lima kartu kredit yang dimiliki atas namaku sendiri, keempatnya bermasalah karena bisnisnya mengalami kendala yang berujung kerugian besar.

Namanya hutang, apalagi dengan bank. Saat semuanya tak berjalan mulus, resikonya bunga terus berjalan dan berkembang hingga nyaris menjerat leher. Ngeri! Sekali bermasalah, maka persiapkanlah mental sekuat baja untuk menghadapinya.

Itu karena masalah bisnis yang macet, ya. Wah, gimana dengan hutang yang disebabkan hawa nafsu dunia?
Makin ngeri! Hanya untuk memenuhi kesenangan sesaat, tapi hutangnya terus bertumpuk.

Beberapa waktu lalu, habis ngobrol sama teman yang baru aja tutup usahanya. Padahal, kalo diliat ke belakang sih, usahanya berjalan lancar dan baik-baik aja. Setelah dianalisa, ada timbul kesadaran. Bahwa, ini mungkin dampak dari riba, katanya.
Aku bilang ke dia, “kalo gitu kamu harusnya bersyukur, anggaplah saat ini kamu sedang bangkrut. Dan Allah sayang sama kamu. Coba pilih mana, bangkrut di dunia tapi kita masih bisa memperbaiki keadaan. Atau bangkrut di akhirat, kelak?” hening..

“Allah itu maha baik banget, ya! kalo menyayangi hamba-Nya pasti dikasih ujian dulu, tujuannya untuk membersihkan diri kita dari jalan yang nggak diridhoi-Nya.” Lanjutku, dengan pikiran melayang ke masa dua tahun lalu, saat berjuang melawan jeratan setan kartu kredit yang nyaris membuatku parno dan menggerogoti tubuhku hingga langsing maksimal.

Beda lagi dengan teman yang lainnya, belum lama ini dia cerita tentang usaha londrinya yang semakin menurun drastis dan sedang menanti takdirnya, hehe.
Saat ini dia pun menyadari, mungkin ini bersebab dosa riba. Usaha yang awalnya berjalan baik, tanpa diduga harus berakhir memprihatinkan.
Ah, semoga saja dapet jalan terbaik dari Allah. Mungkin nanti akan dikasih usaha lainnya yang lebih barokah, ya. Allahumma aamiin.

Balik lagi ke teman yang mengatakan dengan geramnya, “Kutalak tiga kau riba!” di situ sangat jelas tersirat, kalo dia sudah benar-benar marah dengan si riba. Dari kalimat tersebut, jelas menyatakan tidak mau berhubungan lagi dengan riba dalam bentuk apapun. Meskipun, mungkin saat ini masih ada hutang ke bank. Tapi dalam hati sudah berazzam untuk tidak mengulanginya lagi, dan bertekad untuk bisa melunasi hutang yang masih ada. Sama halnya denganku, semoga Allah Ta’ala memudahkan kami yang masih berhutang agar bisa segera melunasinya dan diteguhkan hati tidak tergoda lagi menyentuhnya.

Sudah jelas kan, Allah akan memerangi riba dan menerangkan ancaman keras kepada orang-orang yang memperbolehkan transaksi riba.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat Al-qur’an.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imron [3]: 130)

Tentang sebab turunnya ayat di atas, Mujahid mengatakan, “Orang-orang Arab sering mengadakan transaksi jual beli tidak tunai. Jika jatuh tempo sudah tiba dan pihak yang berhutang belum mampu melunasi, maka nanti ada penundaan waktu pembayaran dengan kompensasi jumlah uang yang harus dibayarkan juga menjadi bertambah maka Allah menurunkan firman-Nya… (ayat di atas).” (al Jami’ li Ahkamil Qur’an, 4/199). Penjelasan tentang riba bisa dibaca di sini.

Sudah banyak terbukti kok dampak dari hutang riba ini, yang salah satunya adalah jeratan manis kartu kredit.
Semoga kita mampu bertawakal dengan menjauhinya, dan dimudahkan untuk menjalankan usaha dengan mengacu pada sistem hidup yang telah diatur sesuai perintah-Nya.

 

 

You may also like

Leave a Reply