Mengapa Aku Ingin Menjadi Penulis?

 

Sungguh, tak ada yang bisa mengetahui takdir kita di depan seperti apa.

Seperti juga aku, tak pernah bermimpi menjadi penulis.
Hanya memiliki hobi membaca dan menulis, yang selalu menghiasi setiap diary teman-teman. Saat diminta isi biodata, sejak puluhan tahun lalu.

Jika takdir saat ini, menjadikan hobi nulis menjadi lebih nyata. Membawaku ke dalam dimensi ruang dan waktu, sebagai penulis. Semua adalah atas seizin-Nya.

Mengapa aku ingin menjadi penulis?

Karena,
Menulis bagiku, adalah sebuah refleksi diri.
Aku menikmatinya sebagai pola terapi jiwa yang tepat. Tulisan yang keluar dari hati akan menemukan jodohnya yang sefrekuensi. Tak hanya menjadi sebuah hiasan aksara yang terpampang nyata, tapi juga bisa menembus ke dalam sukma.
Saat semua hal tak dapat diungkapkan, setidaknya dengan menulislah bisa tersalurkan.

Lalu, apa semua yang bisa dituliskan hanya berupa curhatan?
Tentu saja tidak, kita tidak hidup sendirian. Jangan krisis empati, lihatlah di sekelilingmu!
Yakin, tidak ada yang memerlukan bantuanmu?
Atau pura-pura tidak memahami?

Ah, sudah saatnya buka mata buka hati.
Jangan lihat jauh-jauh, cek keadaan terdekatmu! Sahabat, teman, bahkan keluargamu. Mereka pasti memiliki persoalan yang kadang tak bisa untuk diceritakan.
Saat teman-temanku tahu aku suka menulis, mereka jadi nyaman bercerita tentang kehidupannya.
Bahkan, orang yang tak kukenal sekalipun. Bersedia dengan sukarela berbagi cerita kisah hidupnya.

Aku siapa?
Bukan siapa-siapa.
Kenapa mereka mau membuka rahasianya padaku?
Sejatinya, apa yang kita tulisakan adalah sebagai bentuk cerminan jati diri kita.
Aku bisa menuliskan pengalaman sendiri dan juga orang lain, bukan untuk menebarkan aib atau sesuatu yang tidak layak diketahui orang.
Tapi, hanya ingin berbagi dan semoga saja menjadi ibroh untuk orang yang membutuhkannya.
Ketika kita mampu menyentuh setiap jiwa melalui sebuah tulisan, yakinlah ada kebermanfaatan di dalamnya.
Niatkan, bahwa apa yang kita tuliskan akan menjadi jalan untuk kebaikan.
Bukankah tulisan demi tulisan yang sudah kita buat, akan dipertanggungjawabkan kelak?
Bukankah setelah kita tak ada lagi di dunia ini, sebuah tulisan akan tetap abadi?
Mungkin, tidak hanya di blog ini, media sosial, atau jejaknya yang ditinggalkan dalam sebuah buku. Tapi lebih dari itu, yakni tersimpan abadi di dalam hati penikmatnya.

Aku ingin menjadi penulis, yang semoga saja bisa bermanfaat bagi diriku sendiri dan juga orang lain.
Aku ingin katakan pada jiwa-jiwa di luar sana, bahwa mereka tidak hidup sendirian. Bukan hanya menderita sendirian, tapi ada jiwa lain yang sama bisa merasakan.
Aku ingin menawarkan apa yang disebut kebahagiaan hakiki. Bukan soal mencarinya di mana? Dan kepada siapa meminta? Tapi, kebahagiaan terdapat dalam jiwa yang rela dan ikhlas dengan segala ketetapan-Nya.

Hidup dalam keadaan yang tidak menyenangkan adalah ujian.
Hidup dalam kemewahan dan kenyamanan juga ujian.
Jadi, belum tentu orang yang hidupnya terlihat enak dikelilingi dengan harta dan kemudahan dipastikan bahagia.
Belum tentu juga, orang yang hidupnya sederhana dan mengalami banyak kesulitan, tidak bahagia.
Ataupun juga sebaliknya, ada yang hidupnya berlimpah tapi bahagia. Ada juga yang susah tapi sengsara.
Semuanya tergantung dari cara kita memandang kehidupan ini. Ridhokah kita dengan apa yang sudah Allah takdirkan kepada kita?

Seberapa kuatkah keinginan meraih cita-cita menjadi penulis?

Sekuat hati bisa berempati!
Aku menulis untuk berbagi, dan berharap menjadi jalan untuk orang lain bisa menemukan arti sebuah kebahagiaan sejati.
Fokus bahagia ada di hati bersama Allah saja.
Untuk itu menulislah dengan ikhlas, niscaya hatimu bahagia.

Salam Bahagia,

Si Emak Happy, Santi Rosmala.

You may also like

Leave a Reply