Dua Puluh Tujuh Hari di Bulan Ramadhan

 

Mencoba menjawab tantangan ODOP pekan ini, tentang angka dua puluh tujuh yang menjadi angka terindah untuk mbak Sabrina yang tengah berbahagia di usianya dua puluh tujuh tahun.

Aku tak tahu apa yang harus dituliskan
Angka dua puluh tujuh hanya mengingatkanku pada Ramadhan yang penuh penantian
Bukan hanya soal bulan penuh berkah, dan ritual ibadah yang harus ditingkatkan
Tapi soal harapan baru, yaitu tentang arti kehadiran
Tepat di dua puluh tujuh bulan Ramadhan

Entah berapa hari telah berlalu, sejak kepergianmu
Tak mampu lagi kuhitung waktu, apalagi detik yang terus saja bergerak melawan rindu
Saat jarak terbentang, ribuan mil menjadi benteng pemisah
Aku di sini selalu mengharapkanmu dalam penantian tanpa resah

Membayangkanmu bercengkerama dengan olahan data diantara deburan ombak
Berjuang di bawah sengatan matahari yang begitu terik
Peluh yang bercucuran, dan kening yang berkerut terfokus pada laptop di pangkuan
Tak membuatmu pantang menyerah terkalahkan oleh keadaan

Aku bisa melihat kegigihanmu dalam menjalankan kewajiban
Meski kadang tak ada kabar yang disampaikan
Tapi aku memahami dan sangat bisa merasakan, bahawa kamu pasti mengingatku
Dan ingin segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa melepas rindu

Aku menunggumu di sini, di penghujung bulan Ramadhan
Saat setiap orang sibuk mempersiapkan hidangan untuk lebaran
Saat banyak orang tengah menikmati indahnya berkumpul dengan keluarga tercinta
Aku bersiap menyambutmu dengan kehangatan bertabur rasa

Mungkin, masa itu akan tiba tepat di angka dua puluh tujuh bulan puasa.

 

 

 

 

 

You may also like

Leave a Reply