Mengarungi Desiran Pasir Berbisik dan Nikmatnya Sensasi Keindahan Bromo

 

Mengingat kembali kenangan tahun baru 2014, bertepatan dengan event pameran di Malang Town Square atau biasa disebut Matos. Rosmala Hijab bersama rombongan dari Bandung, menikmati perjalanan dengan menggunakan kereta api yang menghabiskan waktu belasan jam. Kami sengaja memesan tiket kereta dari jauh hari, karena sudah merencanakan perjalanan ini dengan matang.

Malang adalah kota yang aku singgahi dalam jadwal pameran luar kota. Di Matos sendiri, pameran saat itu bisa dikatakan sukses, Alhamdulillah. Banyak kenangan yang tersimpan di sana, bersama sahabat-sahabat yang selalu kompak dan saling menyemangati. Ah, jadi kangen kalian.

Tak seperti biasanya, di Matos kami memilih sewa stand sendiri. Berbeda dengan tempat lainnya, satu stand sharing berdua. Prediksi kami soal Matos ternyata benar adanya. Momen liburan tahun baru, berhasil mendatangkan pengunjung dari luar kota Malang untuk berlibur dan berbelanja. Tidak hanya kota-kota di sekitaran Jawa Timur, tapi juga banyak pengunjung dari Makassar.

Seperti rencana awal sebelum keberangkatan, kami akan menyempatkan untuk mengunjungi gunung Bromo yang terkenal pesona keindahannya. Tibalah saatnya, aku dan sahabat-sahabat owner semua yang bisa berangkat. Dengan menyewa satu mobil minibus, sekitar 14 orang menyiapkan perjalanan dari dini hari. Kalo enggak salah, sih, hanya butuh waktu 2 jam perjalanan dari Matos sampai ke Bromo.

 

Masih gelap saat kami tiba di kaki gunung Bromo. Dengan menyewa dua mobil Jeep, kami pun melanjutkan perjalanan yang lumayan mengundang adrenalin, hehe.
Oiya, beruntung suamiku menyusul dari Bandung dan bisa ikut ke Bromo. Ya, anggap liburan tahun baru sambil dagang lah, haha.

Menginjakan kaki di lereng gunung Bromo, disertai hawa dingin yang menyergap. Membuatku bergetar melihat keindahannya, rasa syukur yang terucap mengaliri seluruh sanubari karena takjub akan pesona yang disuguhkannya.

Puluhan anak tangga yang dilewati, dengan kondisi dingin yang menusuk tulang. Tak sedikitpun menghentikan langkahku, hingga akhirnya tiba di Penanjakan gunung Bromo.
Masyaa Allah, hanya keindahan yang bisa kulihat dari view point atau puncaknya. Tapi, sayangnya matahari yang seharusnya terbit di waktu fajar itu tak nampak karena terhalang kabut. Kami yang sudah memenuhi area puncak dan bersiap mengabadikan momen istimewa itu, harus ikhlas menerimanya tanpa menyisakan kecewa yang mendalam.

Tak mau larut dalam kekecewaan, kami pun segera melanjutkan tujuan berikutnya ke tempat yang pernah dibuat syuting sesuai judul filmnya, yaitu Pasir Berbisik.
Lokasi Pasir Berbisik di sekitar Kaldera, Bromo, yang memiliki hamparan lautan pasir hitam nan luas dan indah.
Sensasi desiran angin yang menyeruak, semakin menguatkan hawa dingin disebabkan angin yang kencang berhembus.

Waktu yang tersisa dipuaskan dengan berfoto, dan semua orang sibuk dengan pasangannya masing-masing. Aku yang mengagumi keindahan lokasi ini, sesekali melihat jajaran tebing yang menjulang tinggi. Suara desir angin menyadarkanku akan kebesaran pemilik-Nya, yaitu Allah Ta’ala yang Maha Besar. Nikmat mana lagi yang harus kudustakan?

Memandangi Savana dari kejuahan, rasanya ingin berlari menghampiri. Sayang, kami harus segera kembali dan meninggalkan sejuta rasa yang tertinggal di sana.
Bromo, takkan kulupakan perjalanan ini. Bersama kalian sahabat-sahabatku, ada rasa yang terjalin selamanya.
Meski, kita sekarang tak lagi bersua. Tapi, kenangan ini tak akan pernah terlupakan. Abadi terukir di antara pesona keindahannya.

 

You may also like

2 Comments

Leave a Reply