Bisikan Sang Mentari

manfaat-sinar-matahari-pagi-untuk-tubuh

Temaram cahaya di langit kelam, di sini, dari kejauhan menanti giliran menguarkan bulir kerinduan. Kudengar langkah kaki terseok menembus heningnya malam. Sekejap, hawa kesejukan menyentuh setiap urat syaraf yang kau basuhan.

Gerakan seluruh indera kau pasrahkan, demi menyambut akhir sepertiga malam. Sayup rintihan dalam pekik yang tertahan, tubuh pun bergetar seolah turut merasakan. Lama tersungkur dalam rangkaian bait doa, tulus tertutur dalam sujud panjang yang memilukan. Menangis, memohon, dan meratap berhiaskan harapan. 

Sementara, jutaan jiwa masih terjaga dalam lelapnya kedamaian. Dan, wahai engkau jiwa yang lapang. Tak sekejap pun kau biarkan malam berlalu tanpa bercengerama dengan pangeranmu, Rabb semesta alam.

Hingga akhirnya aku datang menyapa dalam kehangatan. Kini, tak kan kubiarkan kau larut dalam tipuan dunia yang menyesatkan. Aku yang sama sepertimu, bertasbih menyebut keagungan-Nya.  Tugasku memeluk, menerangi, serta menebar kebahagiaan bagi siapa saja yang bersyukur akan hadirku.

Kau pun menyambutku dengan hati yang riang. Menjemput setiap percikan rezeki yang ditaburkan. Helaan napasmu dapat kurasakan, dalam alunan dzikir penuh kekhusyukan.  Aah, aku bahagia melihatmu dalam balutan ketakwaan.

Kulihat rasa takjubmu menatap tinggi ke arahku, lalu senyuman mengembang di antara pancaran bening matamu. Kembali dalam rengkuhan sujud nan panjang, teriring alunan syukur tak henti kau ucapkan. Syahdu, menembus pintu-pintu langit yang menggetarkan.

Kamu tahu? Aku selalu ada untukmu. Memberi warna dalam harimu, bahkan mengindahkan kehidupanmu. Beruntunglah dirimu yang selalu menanti nikmat Rabbku dan tentu saja, Rabbmu. Maka, tunggulah aku di setiap pagi untuk mencerahkanmu. Duhai jiwa yang senantiasa bersyukur atas limpahan rahmat, melalui aku, sang mentari.

You may also like

No Comments

Leave a Reply